Showing posts with label Kisah. Show all posts
Showing posts with label Kisah. Show all posts

Friday, 18 September 2015

Bagaimana Kisah Ahmed Mohamed dan Islamophobia di AS

Kasus Ahmed Mohamed, remaja yang sempat diborgol polisi hanya karena memamerkan jam kreasinya di sekolah, menunjukkan masih adanya prasangka negatif masyarakat Amerika Serikat atas umat Muslim di negara itu. Bagaimana Amerika bisa mewujudkan ambisi menjadi negara pengusung demokrasi nomor satu di dunia jika sebagian warganya masih belum jernih melihat bahwa Islam dan Muslim tak identik dengan terorisme? Ironisnya, stigma itu ditunjukkan oleh dua institusi yang sangat berpengaruh dalam masyarakat, yaitu sekolah dan kepolisian.

Ahmed Mohamed, remaja berusia 14 tahun itu datang ke sekolahnya MacArthur, yang terletak di Kota Irving, negara bagian Texas pada Senin pagi, 14 September 2015 dengan penuh semangat. Hatinya membuncah karena berhasil merakit sebuah jam digital dari kotak pensil. Remaja yang bercita-cita menjadi penemu itu begitu bangga dan yakin gurunya akan memberi pujian pada karyanya. Namun bayangannya sirna saat sang guru malah ketakutan dan memanggil polisi.

Friday, 14 August 2015

Meliah Md Diah: Kisah Cinta Sejati Seorang Ibu

Tuhan telah lebih dulu memanggil suaminya 20 tahun lalu. Juga tiga kakak Abdul --2 anak laki-laki dan seorang perempuan-- meninggal pada usia muda. Itu membuat perempuan tua itu harus menanggung hidupnya dan Abdul di pundaknya sendiri. Meski demikian, Meliah tidak sepenuhnya hidup sebatang kara. Masih ada sanak famili yang turut menjaga mereka. Seperti Siti Jaleha Yunus, 59 tahun, cucu dari keponakan Meliah.

Menurut Siti Jaleha, kerabat lain bergiliran membantu Meliah dan Abdul. Tidak jarang para kerabat mengantar makanan untuk mereka atau sekadar memeriksa keadaan ibu dan anak itu. Siti Jaleha menyatakan kisah hidup neneknya itu merupakan contoh yang sangat patut diteladani dan bukti pengorbanan seorang ibu kepada anaknya. Sebuah bukti kasih ibu sepanjang masa.

Friday, 13 March 2015

Seperti Apa Kejujuran Polisi Aiptu Jailani

Setelah Jenderal Hoegeng meninggal, rasanya sulit sekali menemukan polisi jujur dan tegas di Indonesia. Dewasa ini, personel Korps Bhayangkara lebih dikenal dengan penegak hukum yang semakin dekat dengan perilaku korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN)Tak cuma setingkat jenderal, polisi kelas bawah pun kini dipandang negatif. Polisi dianggap profesi yang gampang disuap terlebih untuk memuluskan perkara.

Di tengah derasnya kritik tajam itu, ternyata masih ada sosok polisi yang tetap menempatkan dirinya sebagai pengayom masyarakat. Dia adalah anggota Satlantas Polres Gresik, Jawa Timur, Aiptu Jailani. Meski pangkatnya baru seorang bintara, ketegasan dan kejujuran Jailani patut diacungi jempol. Predikat polisi lalu lintas yang akrab dengan kata damai atau 86 bagi pelanggar, tak berlaku untuknya.

Pola pikir seperti ini ingin diubah Jailani. Baginya, siapa pun yang melanggar aturan hukum harus ditindak. Baik itu pejabat negara atau rakyat biasa kalau salah dan melanggar lalu lintas pasti disikat dan mendapat surat ’sakti’ tilang darinya. Termasuk istrinya sendiri. Lucunya, ketegasan Jailani membuat dirinya lebih tenar dari pimpinannya di Polres Gresik. Sejumlah penghargaan pun diraihnya. Baginya ini sangat membanggakan. Maka itu dia berjanji terus sikap tak kenal komprominya

Monday, 9 March 2015

Apa Saja Kisah Kejujuran dan Keberanian Polisi Hoegeng

Polisi Hoegeng adalah satu teladan polisi jujur yang kisah dan kiprah selalu layak diceritakan turun-temurun. 14 Oktober 1921, tepat 91 tahun lalu, Hoegeng lahir di Pekalongan. Inilah beberapa cerita dan kiprah polisi Hoegeng sejak merintis karir sebagai polisi, sebagai dirjen imigrasi hingga berpuncak pada karir sebagai Kapolri. Kisah-kisah yang menyentuh dan menggetarkan hati ini beberapa dikutip dari memoar Hoegeng, Polisi antara Idaman dan Kenyataan, karangan Ramadhan KH.

1. Larang istri buka toko bunga

Sebagai perwira, Hoegeng hidup pas-pasan. Untuk itulah istri Hoegeng, Merry Roeslani membuka toko bunga. Toko bunga itu cukup laris dan terus berkembang. Tapi sehari sebelum Hoegeng akan dilantik menjadi Kepala Jawatan Imigrasi (kini jabatan ini disebut dirjen imigrasi) tahun 1960, Hoegeng meminta Merry menutup toko bunga tersebut. Tentu saja hal ini menjadi pertanyaan istrinya. Apa hubungannya dilantik menjadi kepala jawatan imigrasi dengan menutup toko bunga.