Kasus Ahmed Mohamed, remaja yang sempat
diborgol polisi hanya karena memamerkan jam kreasinya di sekolah,
menunjukkan masih adanya prasangka negatif masyarakat Amerika Serikat
atas umat Muslim di negara itu. Bagaimana Amerika bisa mewujudkan ambisi menjadi negara pengusung
demokrasi nomor satu di dunia jika sebagian warganya masih belum jernih
melihat bahwa Islam dan Muslim tak identik dengan terorisme? Ironisnya,
stigma itu ditunjukkan oleh dua institusi yang sangat berpengaruh dalam
masyarakat, yaitu sekolah dan kepolisian.
Ahmed Mohamed, remaja
berusia 14 tahun itu datang ke sekolahnya MacArthur, yang terletak di
Kota Irving, negara bagian Texas pada Senin pagi, 14 September 2015
dengan penuh semangat. Hatinya membuncah karena berhasil merakit sebuah
jam digital dari kotak pensil. Remaja yang bercita-cita menjadi penemu itu begitu bangga dan yakin
gurunya akan memberi pujian pada karyanya. Namun bayangannya sirna saat
sang guru malah ketakutan dan memanggil polisi.