Habibie yang diangkat menjadi presiden setelah Soeharto memutuskan
mundur dari jabatannya berusaha keras agar rupiah tak terus melemah.
Berbagai cara dia lakukan agar rupiah kembali menguat dengan segala
cara. Selain mengalami tekanan dari dalam negeri, Habibie juga
harus berhadapan dengan intervensi ekonomi yang dipaksakan International
Monetary Fund (IMF). Lembaga moneter ini memaksa Indonesia agar
menghapus kebijakan subsidi, terutama BBM dan TDL. Namun, hal itu
ditolak Habibie.
Pertama, Habibie mempertahankan agar harga
BBM bersubsidi agar tetap terjangkau oleh rakyat yang terpuruk akibat
krisis. Harga Premium saat itu dipatok Rp 1.000, dan Solar Rp 550.
Keputusan ini mendapatkan kritik tajam dari IMF.